Dubbing yang bagus, menurut saya, justru adalah dubbing yang tidak terasa seperti dubbing.

Penonton tidak lagi memikirkan siapa yang mengisi suara karakter itu atau dari bahasa apa dialognya diterjemahkan. Mereka cukup percaya bahwa karakter di layar memang berbicara seperti itu.

Kedengarannya sederhana, tetapi untuk sampai ke sana banyak hal harus bekerja bersama. Terjemahan hanya salah satunya.

Saya sendiri membutuhkan waktu cukup lama untuk memahami itu. Ketertarikan saya pada suara sudah ada sejak kecil, ketika pertama kali mengenal tape recorder. Kemudian saya masuk ke radio, voice-over, dan mulai lebih serius berkecimpung di dunia suara sekitar 2014. Pada 2018 saya mendapat kesempatan mengisi sebuah film kartun yang tayang di YouTube.

Pada masa-masa awal, perhatian saya masih tertuju pada “suara karakter”: bagaimana membuat suara lebih berat, lebih tinggi, atau terdengar seperti orang tua. Seolah kalau warna suaranya sudah berbeda, pekerjaan utama sudah selesai.

Ternyata tidak.

Sekitar 2019, saya pernah mendengar kembali salah satu pekerjaan yang sudah lolos dan tayang. Tidak ada kesalahan besar secara teknis, tetapi saya merasa ada sesuatu yang kurang. Kurang hidup, kurang greget. Karakter di layar seperti memiliki suara, tetapi orang yang mengisi suara itu belum benar-benar berada di dalam adegan.

Dari situlah saya mulai banyak mengevaluasi diri dan belajar lebih dalam tentang dubbing dan voice acting.

Dialog bukan sekadar kalimat

Satu kalimat bisa memiliki banyak cara untuk diucapkan. Misalnya:

“Aku sudah bilang jangan ke sana!”

Tanpa melihat adegannya, kita tidak tahu apakah karakter itu sedang marah, takut, kecewa, sedih, atau bahkan bercanda. Kata-katanya sama, tetapi intonasi, tekanan, tempo, dan emosinya bisa sangat berbeda.

Visual memberikan banyak petunjuk. Karakter sedang berada di mana, berbicara dengan siapa, dan bagaimana ekspresi wajahnya?

Karakter yang berada di lapangan luas tentu tidak selalu berbicara dengan cara yang sama seperti seseorang yang sedang berbisik di ruangan sempit.

Karena itu, dalam dubbing kita bukan sekadar melihat karakter lalu membacakan dialog untuknya. Sebisa mungkin kita masuk menjadi karakter tersebut dan bereaksi terhadap situasi yang sedang ia alami. Di situlah unsur voice acting menjadi penting: listening, reacting, acting, memahami konteks, lalu mencoba menemukan intention dari dialog.

Itu juga alasan mengapa terjemahan yang benar secara bahasa belum tentu langsung menjadi dubbing script yang baik.

Kalimat tertulis bisa terdengar terlalu baku ketika diucapkan. Ada yang secara literal benar tetapi terlalu panjang untuk durasi adegan. Ada juga yang tidak cocok dengan usia atau latar karakter.

Anak kecil tidak selalu berbicara seperti orang dewasa. Remaja, kakek, polisi, atau karakter dengan latar sosial tertentu juga tidak seharusnya memakai register bahasa yang sama.

Bahkan satu kata sederhana bisa menimbulkan masalah kalau konteksnya tidak diperhatikan. “Cool”, misalnya, tentu tidak selalu berarti “dingin”. Dalam konteks lain bisa menjadi “keren”, “bagus”, “santai”, atau sesuatu yang berbeda.

Terjemahan akhirnya bukan hanya soal mencari padanan kata. Kita harus mencari kalimat yang masih membawa maksud yang sama ketika benar-benar keluar dari mulut karakter.

Ketika terjemahan perlu dilokalisasi

Tantangan berikutnya biasanya muncul pada humor, idiom, sapaan, atau referensi budaya.

Ada candaan yang lucu dalam bahasa asal tetapi kehilangan kelucuannya ketika diterjemahkan kata per kata ke Bahasa Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, terkadang dialog perlu dilokalisasi atau bahkan ditranskreasi. Bentuk kalimatnya bisa berubah, tetapi fungsi adegannya tetap dijaga.

Kalau tujuan dialog aslinya membuat penonton tertawa, idealnya penonton Indonesia juga mendapatkan efek yang serupa.

Apa yang terdengar natural dalam satu budaya belum tentu natural di Indonesia. Karena itu adaptor harus memahami bukan hanya bahasa sumber, tetapi juga bagaimana orang benar-benar berbicara dalam Bahasa Indonesia.

Namun ada satu hal yang sering tidak terlihat oleh penonton: tim lokal tidak selalu mempunyai kebebasan penuh.

Setiap proyek memiliki brief sendiri. Ada klien yang memberi ruang cukup luas untuk adaptasi. Ada pula yang meminta dialog tetap sangat dekat dengan naskah yang mereka berikan dan tidak ingin banyak perubahan.

Dalam situasi seperti itu, translator, adaptor, director, atau talent bisa memberikan rekomendasi, tetapi pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan klien.

Jadi ketika kita mendengar dialog dubbing yang terasa sedikit janggal, belum tentu orang yang mengerjakannya tidak menyadari hal tersebut. Bisa saja versi yang lebih natural pernah diusulkan, tetapi keputusan final proyek memang berbeda.

Dubbing bukan hanya seni. Ia juga pekerjaan profesional yang mempunyai brief, deadline, standar teknis, revisi, dan keputusan dari pemilik proyek.

Pekerjaan banyak orang

Hasil akhir dubbing juga tidak pernah berdiri hanya pada seorang dubber atau seiyu.

Ada translator atau adaptor, voice director, talent, recording engineer atau editor, QC, dan orang lain di belakang produksinya. Menurut saya sulit mengatakan satu bagian lebih penting daripada bagian lainnya karena semuanya saling bergantung.

Serial dengan banyak episode memiliki persoalan tambahan: konsistensi. Nama, istilah, sapaan, cara pengucapan, hingga keputusan lokalisasi yang dibuat pada episode awal harus dijaga di episode berikutnya. Karena itu glossary atau panduan istilah menjadi salah satu alat penting untuk menjaga dunia cerita tetap konsisten.

Teknologi membuat proses ini jauh lebih mudah dibanding ketika saya pertama belajar. Akses kepada klien lebih terbuka, peralatan recording lebih terjangkau, dan ilmu lebih mudah didapat melalui kelas daring maupun pengalaman para pelaku industri.

Dulu saya banyak belajar dengan cara mengamati, mencoba, salah, lalu mencoba lagi.

Tetapi kemudahan membeli peralatan tidak otomatis membuat hasil rekaman menjadi bagus.

Talent yang bekerja secara remote, misalnya, tetap perlu memahami fungsi alat yang digunakan. Acoustic foam bukan benda ajaib yang membuat ruangan langsung kedap suara. Mikrofon mahal juga tidak otomatis menyelesaikan masalah ruangan, noise, jarak rekam, atau teknik penggunaan.

Semakin kita memahami fungsi alat, justru semakin sedikit barang yang perlu dibeli hanya karena ikut-ikutan.

Pada akhirnya saya kembali pada pelajaran yang sama seperti ketika mulai serius mempelajari voice acting: latihan, eksplorasi, belajar dari orang yang sudah berpengalaman, lalu latihan lagi.

Karena membuat suara terdengar bagus memang membutuhkan keterampilan. Tetapi membuat penonton lupa bahwa ada seseorang di balik layar yang sedang melakukan dubbing jauh lebih sulit.

Ketika karakter asing tidak lagi terasa seperti karakter yang dipaksa berbicara Bahasa Indonesia, ketika dialognya terasa wajar, emosinya masuk, dan penonton cukup mengikuti ceritanya tanpa terganggu oleh suara di belakangnya, bagi saya di situlah dubbing sudah berhasil menjalankan tugasnya.

KAORI Newsline | Ditulis oleh Dede Ariez Setiawan | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke [email protected].

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.