Anime DANDADAN baru-baru ini terseret dalam kontroversi setelah salah satu episodenya menampilkan lagu parodi yang mirip dengan karya band legendaris X JAPAN. Kasus ini membuat studio Science Saru harus menyampaikan permintaan maaf kepada Yoshiki, sang musisi. Situasi ini pun memunculkan perbincangan lebih luas, bukan hanya soal hak cipta, tetapi juga mengenai perlunya industri anime menyesuaikan diri dengan apa yang disebut sebagai “standar global”.
Kritik dari Ahli Hukum
Seorang pengacara terkenal, Masaki Kito, menilai kasus DANDADAN seharusnya menjadi peringatan serius bagi industri manga dan anime. Menurutnya, jika Jepang ingin membawa karya-karyanya lebih jauh ke pasar internasional, maka proses kreatif harus lebih memperhatikan hukum hak cipta global. Ia mencontohkan bagaimana Hollywood selalu mempertimbangkan aspek hukum lintas negara sebelum merilis karya mereka.
TVアニメ「ダンダダン」における楽曲「Hunting Soul」に関しまして pic.twitter.com/XtWQkbwZYu
— 「ダンダダン」TVアニメ公式 | 第3期制作決定 (@anime_dandadan) August 22, 2025
Antara Kreativitas dan Batasan Hukum
Masalah utama dari DANDADAN bukan hanya soal lagu, melainkan juga penggunaan nama karakter yang mengacu pada tokoh nyata. Hal-hal semacam ini dianggap bisa menimbulkan persoalan hukum di luar negeri. Namun, di sisi lain, banyak penggemar dan warganet Jepang menilai bahwa kreativitas tidak seharusnya terlalu dibatasi oleh standar global yang belum jelas kriterianya.
Reaksi Beragam dari Publik
Meski ada kritik, tidak sedikit penggemar yang merasa kontroversi DANDADAN justru memperkuat popularitasnya. Banyak video dan forum penggemar yang membahas easter egg budaya dalam seri ini, dan hal itu dianggap menambah daya tarik, terutama di kalangan penonton luar negeri yang gemar mencari referensi tersembunyi.
”ダンダダン”については他にも主人公の名前にも議論があり過去も含めて今一度立ち止まって国際標準での漫画作りをすべきというのが私の考えです。それが日本の漫画とアニメの国際化に必要だしそれこそが「今回を契機に未来に向けた創造的な取り組みを共に考えている」という未来志向になると思います
— 紀藤正樹 MasakiKito (@masaki_kito) August 22, 2025
Tantangan untuk Masa Depan Anime
Kasus DANDADAN memperlihatkan dilema besar industri anime Jepang: bagaimana menjaga kebebasan kreatif sekaligus tetap relevan di pasar global. Apakah anime harus menyesuaikan diri dengan standar hukum internasional, atau justru mempertahankan ciri khas lokalnya? Pertanyaan ini akan menjadi tantangan bagi kreator di masa mendatang, terutama ketika semakin banyak karya Jepang yang menembus pasar dunia.
KAORI Newsline | Sumber

















