Penebusan Masa Kecil di Jakarta Toys and Comics Fair 2026: Saat “Inner Child” Pulang Lewat Figure Digimon

0
Penebusan Masa Kecil di Jakarta Toys and Comics Fair 2026: Saat "Inner Child" Pulang Lewat Figure Digimon
Penebusan Masa Kecil di Jakarta Toys and Comics Fair 2026: Saat "Inner Child" Pulang Lewat Figure Digimon

Ada satu momen sunyi yang sering dialami oleh kita yang kini telah beranjak dewasa. Saat kaki tiba-tiba berhenti di depan sebuah rak mainan, tatapan kita terkunci, dan bibir tersenyum tipis tanpa disadari. Bukan karena sekadar ingin bermain, melainkan karena memori masa kecil yang menyeruak keluar. Bagi generasi yang tumbuh di tahun 2000-an, Digimon (Digital Monsters) adalah bagian besar dari memori tersebut. Ia hadir lewat layar kaca sepulang sekolah, lewat lagu pembuka yang masih kita hafal di luar kepala, dan lewat imajinasi liar tentang memiliki partner digital di dunia maya.

Baca juga: DIGI-IN Hadir di DIGIMON EXPO 2025, Menyaksikan Masa Depan Digimon Langsung dari Tokyo!

Namun, di masa itu, memiliki Digivice, V-Pet, atau figure Digimon sering kali hanyalah angan-angan. Harganya yang mahal di masa itu membuat banyak anak Indonesia hanya bisa menatapnya di etalase toko atau majalah. Kini, setelah dewasa, bekerja, dan memiliki penghasilan sendiri, keinginan itu kembali muncul. Membeli mainan Digimon hari ini bukan lagi soal gaya hidup atau sekadar impulsif, melainkan sebuah bentuk penebusan. Sebuah upaya memenuhi janji kecil pada diri sendiri di masa lalu: “Suatu hari nanti, aku akan memilikinya.”

Perasaan haru dan nostalgia inilah yang menyelimuti Jakarta Toys and Comics Fair 2026. Event tahunan yang berlangsung pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026 di Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta, ini benar-benar menjadi oase bagi para pecinta mainan. Di tengah hiruk-pikuk booth dari berbagai franchise besar dunia, Booth C18 milik Komunitas Digimon Indonesia (DIGI-IN) berdiri sebagai magnet nostalgia yang tak pernah sepi pengunjung.

DIGI-IN: Lebih Dari Sekadar Komunitas

Para admin DIGI-IN yang berjaga di booth C18 bukan sekadar penjaga pameran. Mereka adalah sesama Tamer (sebutan untuk fans Digimon) yang memahami betul bahwa koleksi bukan soal seberapa banyak jumlahnya, tapi soal cerita dan emosi di baliknya. Suasana di booth ini begitu hangat. Pengunjung diajak melihat dan berfoto dengan koleksi figure Digimon dari berbagai era, belajar memainkan Digimon Card Game, beradu ketangkasan Digivice dan V-Pet, hingga sekadar bernostalgia tentang episode anime favorit.

Banyak pengunjung yang awalnya hanya sekadar lewat, akhirnya berhenti lama. Mereka terpaku melihat display yang seolah menjadi mesin waktu. Mulai dari figure evolusi Agumon hingga boneka-boneka lucu, semuanya ada di sana. Tak sedikit yang mengaku merasa “terobati” dan “teracuni” (dalam konotasi positif) untuk kembali mengoleksi, bahkan baru menyadari bahwa komunitas Digimon di Indonesia masih seaktif dan sehangat ini.

Digimon Adventure: Pondasi Nostalgia dan Lini Terlengkap

Tak bisa dipungkiri, seri Digimon Adventure (1999) adalah pondasi utama nostalgia ini. Dulu, kita mengenal evolusi Greymon atau Angemon jauh sebelum tahu berapa harga mainannya. Kini, melihat figure-nya terpajang dalam berbagai kualitas dan lini memberikan efek emosional yang mendalam.

Megahouse lewat lini G.E.M Series menjadi primadona sejak 2014 dengan merilis delapan Anak Terpilih lengkap bersama partner mereka: Taichi & Agumon, Yamato & Gabumon, hingga Takeru & Patamon. Evolusi tingkat tinggi seperti Precious G.E.M WarGreymon, MetalGarurumon, hingga Omegamon hadir dengan detail yang memanjakan mata.

Baca juga: Intip Keseruan Masterclass Digimon di ICC 2025!

Bagi kolektor artikulasi, Bandai memanjakan lewat lini S.H.Figuarts dan Figure-rise Standard (model kit). Namun, ada satu lini yang mencuri perhatian di kalangan kolektor dewasa karena kelengkapannya: SHODO Digimon. Meski ukurannya kecil (candy toy), SHODO berhasil merilis form Perfect (Ultimate) dari seluruh partner Digimon secara lengkap, termasuk Zudomon dan Lillymon yang sering kali dianaktirikan di lini lain. Bagi banyak orang, SHODO adalah pintu masuk ideal: ringkas, terjangkau, namun tetap penuh detail dan artikulasi.

Tak ketinggalan, studio Third Party seperti FH dan Miman Studio turut mengisi kekosongan pasar dengan merilis statue evolusi terakhir (Mega) yang jarang diproduksi resmi, seperti Hououmon, Vikemon, hingga Ofanimon, dengan skala yang memukau.

Eksplorasi Era: Dari 02, Tamers, hingga Ghost Game

Nostalgia di booth DIGI-IN tidak berhenti di seri pertama. Era Digimon Adventure 02 hadir lewat lini Digivolving klasik yang memungkinkan figure berubah bentuk (transformasi) dari Armor Evolution hingga Jogress seperti Paildramon.

Sementara itu, seri Digimon Tamers yang dikenal dengan nuansa lebih gelap dan dewasa menjadi favorit banyak kolektor. Lini D-Real dan Digi Warrior dari masa lalu dipajang bersanding dengan rilisan modern seperti Figure-rise Standard Dukemon dan Beelzebmon. Kelengkapannya luar biasa, mencakup karakter niche seperti Cyberdramon, Justimon, hingga Leomon yang ikonik.

Perjalanan berlanjut ke Digimon Frontier dengan Spirit Evolution legendarisnya, Digimon Savers dengan Burst Mode, hingga seri cult classic Digimon X-Evolution yang menampilkan para Royal Knights dalam bentuk X-Antibody yang tajam dan futuristik. Bahkan seri terbaru seperti Digimon Ghost Game pun hadir lewat lini mini figure Hugcot, menunjukkan bahwa dunia Digimon terus berevolusi mengikuti zaman.

Kebahagiaan Kecil di Usia Dewasa

Mayoritas pengunjung booth DIGI-IN hari itu adalah orang dewasa yang sudah mapan atau baru mulai meniti karier. Fenomena unik pun terlihat: ada cerita klasik suami yang sembunyi-sembunyi membeli figure dari istri, namun tak sedikit pula pasangan yang justru mendukung hobi ini. Mereka paham bahwa ini bukan sekadar mainan plastik, melainkan sebuah “kebahagiaan kecil” yang jujur dan menenangkan di tengah kerasnya kehidupan dewasa.

Mengoleksi Digimon di usia dewasa bukanlah tanda penolakan untuk menjadi tua (Peter Pan Syndrome). Sebaliknya, ini adalah cara kita berdamai dengan masa lalu, merawat inner child, dan memberikan apresiasi pada diri sendiri yang telah berjuang sejauh ini.

Bagi Anda yang melewatkan keseruan di Jakarta Toys and Comics Fair 2026 atau baru saja merasa terpanggil untuk kembali ke Dunia Digital, pintu komunitas DIGI-IN selalu terbuka lebar.

Mari bergabung dan bernostalgia bersama:

Karena pada akhirnya, kebahagiaan itu sesederhana melihat Digimon favoritmu berdiri gagah di rak kamar, menghela napas lega, dan berkata dalam hati: “Akhirnya, aku bisa membelimu juga, kawan.” Dan saat itu juga, sebuah kepuasan batin yang tak ternilai harganya pun terpenuhi.

KAORI Newsline | Informasi yang disampaikan berasal dari pihak pemberi siaran pers dan tidak merepresentasikan kebijakan editorial KAORI.

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses