50 Tahun Comiket: Mengenal Sejarah “Self-Censorship” di Comiket

0
Sejarah Kelam Comiket 1991: Krisis Pengusiran Makuhari dan Lahirnya Sensor Mandiri
(c) Bungeishunju Ltd

Tahun 2025 menjadi tonggak emas bagi komunitas budaya pop Jepang karena Comic Market atau Comiket genap berusia 50 tahun. Sejak pertama kali digelar di ruang konferensi kecil pada 1975, acara ini telah berevolusi menjadi fenomena global. Namun, perjalanan setengah abad ini tidak selalu mulus. Terdapat satu lembaran sejarah Comiket yang sangat kelam di mana eksistensi acara ini pernah berada di ujung tanduk. Peristiwa tersebut dikenal sebagai “Insiden Pengusiran Makuhari Messe” pada tahun 1991, sebuah krisis yang mengubah wajah industri doujinshi selamanya.

Kali ini, mari kita melihat sejenak sejarah sensor mandiri dan tekanan yang dihadapi penyelenggara Comiket saat acara doujin market ini semakin membesar dan mulai menarik perhatian orang ramai.

Baca juga: Enako Ingatkan Fans Mandi Dulu Sebelum ke Comiket 106

Krisis ini berakar dari ketegangan sosial yang memuncak pasca-kasus pembunuhan berantai oleh Tsutomu Miyazaki pada 1989. Pemberitaan media yang sensasional mengenai koleksi anime dan manga milik pelaku memicu gelombang kebencian atau otaku bashing di seluruh Jepang. Istilah “otaku” yang sebelumnya netral berubah menjadi stigma kriminal.

Anehnya, di tengah badai kritik tersebut, popularitas Comiket justru meledak. Jumlah peserta melonjak dari 100.000 orang pada musim panas 1989 menjadi 230.000 orang pada tahun 1990. Lonjakan massa yang melawan arus ini membuat Comiket semakin diawasi dengan tatapan curiga oleh publik dan aparat.

Sejarah Comiket di Tengah Gempuran Media

Tekanan semakin nyata memasuki tahun 1990-an. Pemerintah daerah mulai memperketat regulasi “buku berbahaya”. Waktu itu, Jepang digemparkan dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Tsutomu Miyazaki. Media massa mulai mengait-ngaitkan tragedi ini dengan koleksi bacaan milik Miyazaki.

seperti Asahi Shimbun bahkan merilis editorial pedas berjudul “Terlalu Banyak Manga yang Menyedihkan”, mempertanyakan dampak moral dari konsumsi manga. Puncaknya terjadi pada 22 Februari 1991, ketika polisi melakukan penggerebekan besar-besaran terhadap toko buku yang menjual doujinshi dewasa.

Manajer toko buku ternama seperti Shosen Bookmart dan Manga no Mori ditangkap. Lebih dari 70 orang, termasuk penulis, staf percetakan, dan pemilik toko, diperiksa. Dasar penangkapannya, karena menjual doujinshi cabul. Perlu dipahami bahwa menurut peraturan di Jepang saat itu, sebuah buku bisa dianggap cabul apabila buku tersebut tidak disensor dengan baik. Loophole ini dimanfaatkan dan disalahgunakan sebagai cara menekan kreator dan iklim kreativitas circle pada saat itu.

Sejarah Kelam Comiket 1991
(c) Bungeishunju Ltd

Imbas dari penggerebekan tersebut menghantam persiapan Comic Market 40. Pihak kepolisian Chiba dikabarkan menekan pengelola gedung Makuhari Messe, lokasi yang seharusnya menjadi tuan rumah acara tersebut. Akibatnya, pihak gedung menolak menyewakan tempat bagi Comiket.

Baca juga: Apa Beda Comiket Setelah Pandemi? Kami Mewawancarai Pemimpin Comiket

Keputusan ini bagai petir di siang bolong bagi panitia. Saat itu, pendaftaran circle sudah ditutup dan persiapan sudah bisa dikatakan hampir selesai. Tanpa lokasi, Comiket 40 terancam batal total. Jika itu terjadi, momentum komunitas bisa hancur dan sejarah Comiket mungkin akan berhenti di tahun 1991.

Kembali ke Harumi dan Lahirnya “Standar Comiket”

Dalam situasi genting, panitia bekerja keras mencari alternatif. Beruntung, lokasi lama mereka, Tokyo International Trade Center di Harumi, bersedia menampung kembali meski dengan kewaspadaan tinggi. Untuk memastikan acara tetap berjalan tanpa intervensi polisi, panitia menerapkan langkah drastis yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Pada hari penyelenggaraan, 16-17 Agustus 1991, panitia memberlakukan sistem pemeriksaan sampel buku atau mihonshi check. Setiap circle wajib menyerahkan sampel karya mereka untuk diperiksa secara fisik sebelum acara dibuka. Panitia menyisir setiap halaman untuk memastikan tidak ada penggambaran alat kelamin yang melanggar hukum.

Jika ditemukan pelanggaran, peserta dipaksa melakukan sensor di tempat menggunakan spidol atau stiker, atau dilarang berjualan sama sekali. Inilah momen lahirnya norma sensor mandiri yang kemudian menjadi standar de facto di industri doujinshi hingga hari ini. Insiden 1991 membuktikan ketangguhan Comiket yang mampu beradaptasi di tengah tekanan ekstrem, menjadikannya institusi yang mampu bertahan selama setengah abad.

KAORI Newsline | Sumber

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses