Industri hiburan Asia kini tengah menjadi sorotan dunia berkat gelombang konten baru dari Negeri Gajah Putih, Thailand. Thailand berhasil menempatkan dirinya sebagai pusat produksi cerita yang mengangkat tema keberagaman, khususnya melalui genre Boys’ Love (BL) dan yang terbaru, Girls’ Love (GL). Popularitas drama Thailand ini tidak hanya menciptakan basis penggemar yang militan di berbagai negara, tetapi juga tumbuh menjadi industri bernilai jutaan dolar.

Pergerakan ini mengubah peta hiburan global secara signifikan. Jika sebelumnya narasi LGBT sering kali dipinggirkan atau berakhir tragis, konten dari Thailand justru menawarkan perspektif yang lebih hangat dan penuh harapan. Keberanian rumah produksi di Thailand untuk menggarap pasar ini telah membuka ruang diskusi baru mengenai representasi gender di layar kaca.
Gelombang Baru Kisah Cinta Perempuan di Drama Thailand
Salah satu terobosan terbesar datang dari genre Girls’ Love. Genre ini menampilkan kisah romansa antarperempuan yang kini menjadi salah satu produk budaya paling sukses di Asia. Sebagai contoh, serial 23.5 yang diadaptasi dari novel populer berhasil menarik perhatian global. Kisah ini menyoroti karakter Ongsa dan Sun, dua siswi sekolah menengah yang terjebak dalam dinamika cinta remaja yang manis namun rumit.
Pemerhati budaya pop mencatat adanya perbedaan mendasar antara drama GL Thailand dengan tayangan barat. Di Hollywood atau serial global lainnya, karakter perempuan penyuka sesama sering kali terjebak dalam “Dead Lesbian Syndrome”, di mana karakter tersebut dimatikan atau mengalami nasib tragis. Sebaliknya, kreator Thailand berani mematahkan pola tersebut dengan memberikan akhir yang bahagia. Hal ini membuat penonton merasa validasi atas perasaan mereka tanpa harus dihantui rasa takut akan akhir yang menyedihkan.

Kesuksesan ini terbukti secara angka. Serial GAP The Series: Pink Theory, misalnya, berhasil meraup lebih dari 300 juta penonton di YouTube. Fenomena ini membuktikan bahwa pasar sangat haus akan representasi yang positif. Para penggemar dari Brasil hingga Tiongkok merasa terhubung secara emosional karena akhirnya bisa melihat dua karakter perempuan menjadi tokoh utama dalam kisah cinta yang utuh, bukan sekadar pemanis cerita.
Baca juga: Netflix Gandeng MAPPA Garap Anime Orisinal
Ledakan Popularitas di Negeri Sakura
Menariknya, kesuksesan drama Thailand ini juga merambah ke Jepang, negara yang sebenarnya merupakan “tanah kelahiran” genre BL melalui manga dan anime. Penulis dan editor Jepang, Hirarisa, mencatat bahwa ledakan ini bermula sekitar tahun 2020 saat pandemi memaksa banyak orang berdiam di rumah. Serial 2gether: The Series menjadi pemicu utama fenomena ini.

Salah satu kunci mengapa mengapa konten ini bisa begitu populer di Jepang terletak pada peran aktif penggemar. Meskipun awalnya hanya tersedia dalam bahasa Thailand, komunitas penggemar dengan sukarela membuat takarir (subtitle) dalam berbagai bahasa. Selain itu, chemistry para aktor di media sosial juga memegang peranan penting dalam membangun keterikatan dengan penonton.
Jepang sebenarnya sudah memiliki basis penikmat cerita romansa sesama jenis yang kuat lewat dorama seperti Ossan’s Love atau What Did You Eat Yesterday?. Namun, drama Thailand menawarkan daya tarik berbeda. Serial seperti Dark Blue Kiss dan Until We Meet Again tidak hanya menjual romansa, tetapi juga memotret realitas sosial, konflik keluarga, hingga isu penerimaan diri dengan cara yang menyentuh hati.
Baca juga: Saika Kawakita Siap Main Drama TV
Dampak dari tayangan ini melampaui sekadar hiburan semata. Bagi penonton di negara-negara dengan sensor media yang ketat atau budaya konservatif, drama-drama ini menjadi “ruang aman”. Platform streaming global memungkinkan mereka mengakses konten yang mungkin dilarang di televisi lokal mereka.

Seorang sutradara asal Inggris bahkan menyebutkan bahwa bagi sebagian perempuan di negara dengan hukum anti-LGBT yang ketat, film atau serial seperti ini mungkin menjadi satu-satunya validasi bahwa perasaan mereka nyata dan wajar. Thailand, dengan pendekatannya yang terbuka, secara tidak langsung telah mengekspor harapan dan rasa penerimaan ke seluruh dunia.
Meskipun industri ini bernilai ekonomi tinggi, nilai terbesarnya tetap terletak pada dampak emosionalnya bagi penonton. Kehadiran kisah-kisah ini mengajarkan bahwa cinta, dalam bentuk apa pun, layak untuk diperjuangkan dan memiliki kesempatan untuk berakhir bahagia. Thailand telah membuktikan bahwa keterbukaan dalam bercerita bisa menjadi kekuatan lunak (soft power) yang sangat berpengaruh di kancah internasional.











