Sebuah kisah inspiratif datang dari Kumamoto, Jepang, yang melibatkan kepedulian sekelompok pekerja Indonesia terhadap warga setempat. Pada pertengahan Januari lalu, tepatnya di tengah suhu musim dingin yang menusuk, lima perempuan muda asal Indonesia menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan tidak mengenal batas negara maupun bahasa. Mereka berhasil menyelamatkan seorang wanita lanjut usia yang terjebak di dalam saluran air selama berjam-jam.
Peristiwa bermula pada tanggal 15 Januari 2026 sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Tiga orang pekerja Indonesia, yakni Puji Atun (24), Novita Rohmah Danti (24), dan Widyawati Firda Saputri (21), sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja mereka di Distrik Nishi, Kota Kumamoto. Mereka mengayuh sepeda menuju asrama tempat tinggal yang tidak jauh dari lokasi kerja.
Di tengah perjalanan yang gelap dan dingin, mereka mendengar suara lirih dari arah saluran irigasi. Suara tersebut terdengar seperti seseorang yang meminta tolong. Ketika mereka memeriksa sumber suara, mereka menemukan seorang nenek berusia 80-an tahun yang terjatuh ke dalam saluran air sedalam kurang lebih satu meter.
Wanita lansia tersebut diketahui sedang berjalan-jalan namun malang tak dapat ditolak, ia terperosok ke dalam parit beton tersebut. Meski tidak ada air deras yang mengalir, ia tidak bisa keluar sendiri dan diperkirakan sudah terjebak di sana selama lebih dari dua jam dalam kondisi kedinginan dan mengalami memar di kaki. Ia terus merintih, “Tasukete, tasukete” (tolong, tolong).
Baca juga: Kagoshima Dorong Rekrut Pekerja Indonesia
Ketiga pekerja muda ini sebenarnya baru saja tiba di Jepang pada bulan Oktober tahun lalu. Kemampuan bahasa Jepang mereka masih sangat terbatas. Namun, melihat kondisi darurat tersebut, mereka tidak berpikir panjang. Puji, Novita, dan Widyawati langsung turun tangan memegang tubuh dan kaki sang nenek, lalu mengangkatnya keluar dari saluran air tersebut ke tempat yang aman.
Bahasa Bukan Penghalang Kemanusiaan
Setelah berhasil mengangkat korban, mereka menyadari bahwa komunikasi akan menjadi kendala untuk menanyakan kondisi kesehatan maupun alamat rumah sang nenek. Oleh karena itu, mereka segera menghubungi dua rekan senior mereka yang kemampuan bahasa Jepangnya lebih baik, yaitu Nila Nur Marisa (30) dan Erli Widyawati (40).
Nila dan Erli segera datang membantu. Mereka kemudian menghubungi polisi dan mencoba menenangkan korban sambil menunggu bantuan datang. Nila menceritakan bahwa saat itu tangan sang nenek terasa sangat dingin. Tanpa ragu, mereka memberikan topi dan sarung tangan mereka sendiri untuk dipakai oleh wanita lansia tersebut agar ia merasa lebih hangat.
Polisi yang tiba di lokasi segera membawa wanita tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Berkat aksi cepat tanggap para pekerja Indonesia ini, nyawa sang nenek berhasil diselamatkan. Pihak kepolisian setempat menyatakan bahwa jika penemuan korban terlambat sedikit saja, nyawanya mungkin tidak akan tertolong mengingat suhu malam itu sangat dingin.
Atas keberanian dan kepedulian mereka, Kepolisian Kumamoto Selatan memberikan surat penghargaan kepada kelima perempuan hebat ini pada tanggal 29 Januari 2026. Dalam momen tersebut, Nila mengungkapkan perasaannya. Ia teringat akan keluarganya sendiri saat melihat nenek tersebut. Menurutnya, menolong orang yang sedang kesulitan adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh siapa saja.
Respons Hangat dan Kritis Warganet Jepang
Berita penyelamatan ini menyebar luas di media sosial dan memancing beragam reaksi dari warganet Jepang. Banyak yang merasa tersentuh dengan ketulusan hati para pekerja asing ini. Di tengah maraknya isu prasangka terhadap warga negara asing belakangan ini, kisah ini dianggap sebagai penyejuk dan bukti nyata kebaikan hati manusia.
Baca juga: Pekerja Indonesia Berperan Besar Dalam Pertanian Jepang
Salah satu warganet berkomentar bahwa berita ini membuatnya merasa bahagia, meskipun ia sempat khawatir apakah ini hanya berita baik yang menutupi realitas lain. Namun, mayoritas komentar bernada positif dan penuh rasa terima kasih. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang seperti merekalah yang sangat dibutuhkan di Jepang, tidak peduli berapa banyak jumlahnya.
Di sisi lain, muncul juga kritik sosial dari warganet Jepang terhadap sistem ketenagakerjaan di negara mereka. Beberapa komentar menyoroti bahwa orang-orang sebaik ini sering kali hanya dijadikan tenaga kerja murah. Mereka berharap agar sistem kerja magang atau pekerja asing bisa diperbaiki agar lebih manusiawi dan tidak sekadar mengeksploitasi kebaikan serta tenaga para pekerja dari negara berkembang.
Kisah dari Kumamoto ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya empati. Lima pekerja Indonesia ini telah membuktikan bahwa meskipun berada di negeri orang dengan keterbatasan bahasa, niat tulus untuk menolong sesama adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja. Aksi mereka tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga menghangatkan hubungan antarwarga kedua negara.
KAORI Newsline | Sumber











