Diduga Bikin “Film” Dengan Anak SMP, Pria Jepang Ini Diciduk

0
kehidupan di Jepang
© Tatsuro Kanai/Asahi

Kriminalitas di Jepang kembali menjadi sorotan setelah kepolisian Tokyo menangkap seorang eksekutif perusahaan hiburan pada 8 Januari 2026. Pria berusia 51 tahun bernama Akira Awazu itu diduga memproduksi dan menjual video “film” yang melibatkan seorang gadis berusia 15 tahun.

Modus Operandi di Balik Kejahatan

Menurut penyelidikan, kasus ini terjadi di sebuah hotel di kawasan Kabukicho, distrik yang dikenal dengan kehidupan malamnya. Awazu disebut merekam dirinya sendiri saat melakukan tindakan asusila dengan korban pada awal Juli. Ia juga diduga membayar 40.000 yen sebelum merekam kejadian tersebut, lalu menjual rekamannya sebagai video “film” untuk meraup keuntungan.

Alasan dan Bantahan Tersangka

Dalam pemeriksaan, Awazu dilaporkan membantah sebagian tuduhan dengan mengklaim bahwa ia mengira korban sudah berusia 18 tahun. Meski begitu, polisi menyebut ada indikasi kuat bahwa ia sebenarnya mengetahui korban masih di bawah umur. Kasus ini menambah daftar panjang kriminalitas di Jepang yang berkaitan dengan eksploitasi anak di bawah umur. Awazu juga disebut menjanjikan bahwa wajah korban akan diubah menggunakan teknologi AI. Namun, hasil penyuntingan dinilai sangat minim sehingga korban tetap bisa dikenali. Sebaliknya, Awazu justru menyembunyikan wajahnya sendiri dalam video tersebut.

Terbongkar dari Pengakuan Korban Lain

Kasus ini terungkap ketika polisi memeriksa seorang remaja perempuan yang sering berada di Kabukicho dan mendapatkan informasi penting. Dari situ, penyelidikan berkembang dan mengarah pada Awazu. Ia bahkan mengakui sudah sejak pertengahan 2024 mendekati perempuan melalui jalanan maupun media sosial untuk membuat konten serupa, bertindak sebagai sutradara sekaligus pemeran.

Skala Kejahatan yang Lebih Besar

Saat pihak kepolisian menggeledah rumah Awazu, setidaknya ditemukan sekitar 1700 video eksplisit yang melibatkan gadis-gadis yang diduga masih remaja hingga usia 20-an. Polisi memperkirakan ia meraup sedikitnya 10 juta yen dari penjualan video sejak Januari hingga Oktober tahun lalu.

Dampak dan Tindakan Lanjutan

Perusahaan tempat Awazu bekerja langsung memecatnya dan berjanji memperketat tata kelola serta kepatuhan hukum. Kasus ini juga kembali mengingatkan pentingnya undang-undang regulasi pornografi yang diberlakukan sejak 2022 untuk melindungi kaum muda. Di tengah citra Jepang sebagai negara maju dan aman, peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa kriminalitas di Jepang tetap membutuhkan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas.

KAORI Newsline | Sumber

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses