Kehidupan di Jepang kembali disorot dari sisi kesehatan publik setelah Prefektur Ehime melaporkan lonjakan kasus sifilis sepanjang tahun 2025 lalu. Total 163 kasus tercatat, angka tertinggi sejak survei dimulai pada 1999. Rekor ini melampaui capaian tahun 2023 yang sebelumnya sudah dianggap mengkhawatirkan.
Sebagian besar kasus sifilis di Ehime terkonsentrasi di Matsuyama dengan sekitar 60 persen dari total laporan, disusul Saijo, Shikokuchuo, dan Imabari. Jika dilihat dari kelompok usia, pria usia 40-an mencatat jumlah tertinggi, diikuti mereka yang berusia 20-an dan 30-an. Pada perempuan, kelompok usia 20-an menjadi yang paling banyak terkonfirmasi.
Peran Industri “Hiburan”
Data resmi menunjukkan lebih dari separuh pria yang terinfeksi pernah menggunakan layanan industri “hiburan” dalam enam bulan sebelum tes. Pada perempuan, sebagian kecil memiliki riwayat bekerja di sektor tersebut. Fakta ini menyoroti sisi lain dari kehidupan di Jepang, di mana industri “hiburan” dewasa menjadi bagian dari realitas sosial, sekaligus menyimpan potensi risiko jika tidak dibarengi praktik pencegahan yang konsisten.
Tren Kenaikan Sejak Beberapa Tahun Terakhir
Kasus sifilis di Ehime diketahui terus meningkat sejak 2016, dan lonjakan tahun terakhir terasa paling mencolok. Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan pola hidup, mobilitas, serta interaksi sosial dalam kehidupan di Jepang ikut memengaruhi penyebaran penyakit menular seksual. Tanpa langkah pencegahan yang lebih luas, tren ini dikhawatirkan akan terus berlanjut.
Ajakan untuk Lebih Peduli dan Waspada
Pemerintah prefektur kini membuka konsultasi telepon serta menyediakan tes gratis dan anonim. Warga diimbau menggunakan kondom dengan benar dan segera memeriksakan diri jika merasa berisiko. Pada akhirnya, menjaga kesehatan adalah bagian penting dari kehidupan di Jepang yang modern, dan kesadaran kolektif menjadi kunci agar angka kasus tidak terus menanjak.
KAORI Newsline | Sumber











