Jumlah penduduk muslim Jepang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini mulai terasa di berbagai kota, terutama saat kegiatan ibadah berlangsung di ruang publik. Salah satu kejadian yang menyita perhatian terjadi pada Juni 2025 di Distrik Higashi, Kota Fukuoka. Saat itu, ratusan umat Muslim melaksanakan salat Id di taman umum yang berada tepat di samping Masjid Fukuoka.
Pengelola masjid sebenarnya sudah mengajukan izin resmi untuk menggunakan sebagian taman seluas 100 meter persegi. Izin serupa juga pernah diberikan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun pada hari pelaksanaan, jumlah jemaah jauh lebih banyak dari perkiraan. Sekitar 600 orang hadir dan area yang digunakan meluas hingga beberapa kali lipat dari batas yang diizinkan.
Kondisi tersebut terjadi karena salat Id tersebut bertepatan dengan hari Idul Adha di Jepang yang jatuh pada akhir pekan, tepatnya 7 Juni 2025 lalu. Banyak jemaah tidak tertampung di dalam masjid, sehingga meluber ke area taman. Bagi muslim Jepang, kejadian ini menjadi gambaran nyata keterbatasan fasilitas ibadah di tengah jumlah jemaah yang terus bertambah.
Tanggapan Warga Sekitar Masjid
Kehadiran ratusan jemaah di taman umum memunculkan reaksi yang berbeda-beda dari warga sekitar. Ada yang menganggapnya sebagai hal biasa, mengingat jumlah warga asing di kawasan tersebut memang terus meningkat. Mereka menilai kegiatan ibadah tersebut tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.
Namun, sebagian warga lainnya merasa canggung dan tertekan. Perbedaan budaya yang muncul secara tiba-tiba, apalagi dalam jumlah besar, menimbulkan rasa tidak nyaman. Ketegangan ini bahkan sempat memicu aksi protes di depan masjid pada September 2025.
Meski begitu, tokoh lingkungan setempat menegaskan bahwa komunikasi tetap dijaga. Pemerintah distrik kemudian mengingatkan pihak masjid agar ke depan benar-benar mematuhi batas area yang telah disetujui.
Baca Juga: Dua Bersaudara Muslim ini Membawa “Warna Baru” di Dunia Fashion dan Art di Jepang
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi komunitas muslim di Jepang. Perencanaan kegiatan ibadah berskala besar perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar agar tidak memicu kesalahpahaman.

Jumlah Muslim Jepang Naik Pesat
Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari Indonesia. Banyak di antaranya bekerja sebagai perawat dan tenaga teknis. Masuknya tenaga kerja ini tidak lepas dari kerja sama ekonomi antara Jepang dan Indonesia yang sudah berjalan sejak 2008.
Kenaikan jumlah penduduk Muslim ini membawa kebutuhan baru, bukan hanya soal tempat ibadah, tetapi juga urusan pemakaman. Dalam ajaran Islam, jenazah harus dimakamkan, sementara di Jepang hampir semua pemakaman dilakukan dengan kremasi. Saat ini, hanya sekitar sepuluh lokasi pemakaman yang mengizinkan pemakaman sesuai ajaran Islam.
Baca juga: Wisatawan Muslim Meningkat, JR East Buka Musholla di Stasiun Tokyo!
Situasi ini membuat isu pemakaman menjadi sensitif. Di beberapa daerah, rencana pembangunan pemakaman Muslim bahkan memicu perdebatan panjang dan ikut memengaruhi pemilihan kepala daerah.
Upaya Mencari Jalan Tengah di Fujisawa
Kondisi serupa juga terlihat di Fujisawa, Prefektur Kanagawa. Di wilayah ini, komunitas Muslim yang mayoritas berasal dari Sri Lanka rutin menggelar Salat Jumat di gedung komunitas sewaan. Seiring bertambahnya jemaah, muncul rencana pembangunan masjid baru.
Meski izin pembangunan telah dikantongi, sebagian warga menyampaikan kekhawatiran. Mereka menyoroti potensi kemacetan, kebisingan, dan perubahan suasana lingkungan. Menanggapi hal tersebut, perwakilan komunitas Muslim mengusulkan pertemuan rutin dengan warga sekitar untuk membahas operasional masjid secara terbuka.
Pengamat dari Waseda University menilai pemerintah pusat perlu ikut turun tangan. Penerimaan Muslim Jepang sebagai bagian dari warga sehari-hari tidak cukup hanya mengandalkan upaya komunitas lokal. Dukungan berupa pendidikan bahasa dan layanan sosial dinilai penting agar kehidupan bersama bisa berjalan lebih lancar.
Pertumbuhan Muslim Jepang kini menjadi bagian dari perubahan besar di masyarakat Jepang. Dari ruang ibadah hingga pemakaman, semua membutuhkan penyesuaian dari berbagai pihak. Tanpa komunikasi yang terbuka dan aturan yang jelas, perbedaan kecil bisa dengan mudah berubah menjadi persoalan yang lebih besar.
KAORI Nusantara | Sumber: Japan Forward










