
Kisah tentang Islam di Jepang kali ini datang dari Koshigaya, Prefektur Saitama, lewat perjalanan hidup Yuta Koinuma yang dulu memandang Islam dengan rasa takut. Pandangannya berubah total setelah berbagai pengalaman saat berkeliling dunia sebagai backpacker. Kini, bersama sang istri Yumiko, ia justru aktif memperkenalkan sisi hangat Islam lewat cara yang sederhana dan dekat dengan budaya lokal.
Dari Stereotip ke Misi Edukasi
Yuta dan Yumiko ingin mematahkan stigma negatif tentang Islam di Jepang yang kerap dikaitkan dengan hal-hal ekstrem. Mereka percaya bahwa pendekatan budaya bisa membuka ruang dialog yang lebih santai. Dari keyakinan itulah muncul ide untuk menggabungkan simbol Jepang yang dicintai banyak orang, yaitu bunga sakura, dengan hijab sebagai identitas Muslimah.
Baca juga: Pertumbuhan Islam di Jepang Semakin Pesat
Hijab Sakura yang Lebih Bersahabat
Produk hijab bermotif sakura hadir dalam warna pink, putih, dan krem, memberi kesan lembut dan mudah didekati. Konsep ini diharapkan membuat orang yang melihatnya merasa lebih akrab dengan Islam di Jepang, sekaligus memberi rasa percaya diri bagi pemakainya. Bagi pasangan ini, hijab bukan sekadar penutup kepala, tetapi juga media komunikasi budaya.
Produksi dari Indonesia untuk Jepang
Hijab-hijab tersebut diproduksi oleh perusahaan di Indonesia yang memiliki ratusan jenis kain dengan kualitas cocok untuk iklim dan kebutuhan sehari-hari. Pilihan bahan yang ringan dan nyaman menjadi nilai tambah, sekaligus memperkuat hubungan antara Indonesia dan Islam di Jepang dalam konteks gaya hidup modern.
Menjangkau Komunitas Lewat Berbagai Acara
Penjualan dilakukan di restoran halal, masjid, serta secara online, sehingga jangkauannya semakin luas. Bahkan tersedia juga hijab untuk anak-anak dengan bahan yang elastis dan adem. Langkah ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa bangga sejak dini terhadap identitas Muslim di tengah kehidupan Islam di Jepang yang minoritas.
Baca juga: Jumlah Muslim Jepang Naik, Warga Mulai Dihadapkan pada Perubahan
Latar Belakang yang Menguatkan Makna
Yumiko sendiri tumbuh dalam keluarga Muslim dan pindah ke Jepang sejak kecil. Sementara Yuta menemukan ketertarikan pada Islam setelah merasakan langsung keramahan umat Muslim di luar negeri. Pengalaman ini membuat mereka ingin menghadirkan wajah Islam di Jepang yang lebih humanis dan penuh kehangatan.
Hijab sebagai Simbol Perlindungan dan Keindahan
Dalam pandangan Islam, rambut perempuan dianggap sesuatu yang indah dan dijaga melalui hijab. Lewat sentuhan sakura, pesan ini disampaikan dengan cara yang lebih halus dan mudah diterima. Pada akhirnya, hijab bermotif sakura bukan hanya produk fesyen, tetapi juga jembatan kecil untuk memperdalam pemahaman tentang Islam di Jepang di tengah masyarakat yang semakin beragam.
KAORI Newsline | Sumber









